Topi Cloche Saksi Bisu Kematian Sheri

image

                  

image

“Aku benci orang yang tidak menyukai topi.” Ucap Danu sebelum melangkah masuk kedalam mobil. Ia berniat pergi kerumah Sheri, kekasihnya.

Danu memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Sheri. Setelah keluar dari mobil dan membanting pintu dengan keras, ia menghela nafas sejenak. Diusapnya wajahnya sendiri dengan kasar.

Ia melangkah tergesa menuju rumah dan menggedor pintu dengan tidak sabaran, “Cepat buka!”

Sosok Sheri dihadapan Danu hanya terperangah melihat ekpresi kekasihnya yang terlihat marah. Wajah pria itu mengeras, dan Sheri juga mendengar gemeretak gigi Danu.

“Kamu pasti berbohong kan? Kamu bilang akan menyimpannya!” Hardik Danu yang langsung mencekik dan mendorong Sheri.

Sheri yang sudah tersungkur hanya memegang lehernya yang terasa sakit. Ia menatap Danu dengan tatapan tidak percaya. Selama 2 tahun hubungannya bersama Danu, baru kali ini laki-laki yang sangat dicintainya itu berani menyakitinya.

“Mana topi yang ku berikan kepadamu?”

Jadi hanya karena masalah topi hingga membuat Danu tega melakukan ini semua?

Sheri bangkit dan pergi kekamarnya. Lantas kembali kehadapan Danu dengan membawa topi Cloche berwarna seperti warna kayumanis ditangannya yang baru saja ia raup dari tong sampah. Topi pemberian Danu tadi malam saat merayakan ulang tahun Sheri yang ke 20.

“Ini!” Sheri melempar topi tersebut tepat kewajah Danu.

Membuat amarah Danu semakin meledak-ledak. “Pakai!”

“Tidak!”

“Pakai!”

“Tidak!”

Sebuah tamparan Danu sukses membuat pipi Sheri memerah dan terasa perih. Butiran-butiran air mata pun jatuh disudut matanya. Tapi Danu tidak menghiraukannya sedikit pun.

“Pakai!” Entah mengapa Danu melemahkan suaranya.

“Ti… Tidak…” Lirih Sheri.

Tapi hal itu justru kembali menyulut api amarah dalam diri Danu. Pria itu pun menjambak dengan kasar rambut Sheril dan menyeretnya kekamar mandi. Sheril yang kesakitan meronta-ronta dan berteriak meminta pertolongan. Tapi Danu lebih cepat melayangkan tamparannya kewajah cantik Sheri, membuat gadis itu bungkam karena ketakutan.

Danu benci dengan orang yang tidak mau menuruti kemauannya. Ia juga membenci orang yang tidak menyukai memakai topi. Hal yang membuat Danu begitu menyukai topi karena ia bisa terus mengingat tentang mantan kekasihnya yang meninggal 3 tahun lalu akibat kecelakaan mobil, Claudia.

“Aku menyukai topi! Dan aku menyukai wanita yang senang memakai topi!” Gumam Danu seraya membanting-bantingkan kepala Sheri kedalam air bathup.

Sheri yang sudah megap-megap dan nyaris kehabisan nafas hanya bisa menangis tanpa suara. Ia tidak menyangka jika kejujurannya pada adik Danu akan membuahkan hasil seperti ini. Sheri mengatakan kepada adik Danu bahwa ia akan membuang topi itu karena ia sangat membenci topi.

Baginya, topi hanya akan membuatnya teringat kembali  kenangan tentang kematian ayahnya yang tewas dibunuh. Ia bahkan masih ingat bagaimana posisi tubuh ayahnya yang tergeletak bersimbah darah, dan banyaknya luka tusukan ditubuhnya. Lalu topi bisbol berwarna biru malam yang berada ditangan mayat ayahnya. Ia ingat betul detail kenangan terburuk dalam hidupnya tersebut.

Setelah beberapa tahun lamanya, barulah pelaku pembunuh ayahnya tertangkap. Pelaku yang ternyata salah mengira orang dengan mengira ayah Sheri adalah orang yang dibencinya hanya bisa  terpuruk dalam penyesalan. Topi yang dipakai oleh ayah Sheri lah salah satu penyebab kesalahan si pelaku.

Danu mendekatkan telinga Sheri kebibirnya, “Kenapa kamu membenci topi?”

Sheri yang ingin menjawab hanya bisa meringis tanpa suara, tenggorokannya terasa begitu sakit. Nafasnya sudah terputus-putus, tetapi sedikitpun Danu tidak merasa kasihan.

“Jawab!” Teriak Danu dengan menghantamkan kepala Sheri kekeran air disamping bathup.

Dalam sekejap keran air yang terbuat dari stenlyss itu berlumur darah, dan membuat Sheri tidak bernyawa dengan keadaan kepala yang robek dan pecah. Dari lukanya mengalirkan darah segar dan memberi warna merah pada lantai keramik yang berwarna putih cream.

Danu melepaskan cengkraman dikepalanya, tubuh kekasihnya kini terbaring dilantai kamar mandi. Ia baru saja akan pergi sebelum tangan Sheri meraih kakinya.

“Ke… na-pa.. k… kamu… mela… kukan… ini…”

Danu menyeringai kearah wajah Sheri yang telah diliputi cairan darah. “Aku menyukai topi.” Ucap Danu seraya tersenyum tipis.

Kemudian satu injakan sekuat tenaga dikepala gadis itu sukses membuat Sheri benar-benar kehilangan nyawanya. ” Dan aku benci dengan orang yang tidak menyukai topi.”

Begitu keluar dari rumah Sheri, Danu disambut oleh warga yang berkumpul karena mendengar teriakan-teriakan dari dalam rumah Sheri.

Tamat…

Follow IG Penulis: mhmd.ridha dan terimakasih sudah membaca postingan diblog ini.

image

Iklan

Sebuah show besar Stand Up Comedy South Borneo bertajuk Tawa Matan Banua!

image

Ayoo tunggu apa lagi buruan beli tiketnya hanya seharga 50 ribu, dengan atmosfir dan pengalaman nonton show stand up selama 2 malam berturut-turut.

Dijamin bakalan seru, dengan banyak penampilan luar biasa dari seluruh komunitas stand up komedi daerah Kalimantan Selatan. Yaitu @standupbjm @standupbjb @standup_plh @standupmurakata @standup_amt @standuptjg @standuptanbu & @standupktb serta dimeriahkan juga oleh improve komedy, drama komedi tradisional dan bakalan ada penampilan yg memukau oleh 2 komika nasional yg tak asing lagi. Ayoo beli tiketnya! Sekarang!

Informasi serta pembelian tiket:

Banjarmasin:
☎️ @erevariza ( 082153586358)
☎️ @yudi_syahrial ( 081251125684 )

Banjarbaru:
☎️ @sndystwn ( 085346796487 )

Bagi kawan-kawan di daerah bisa beli di agent distributor tiket kami

Pelaihari:
☎️ @fajrirezki ( 082251035769 )

Amuntai:
☎️ @steven_gile ( 081953537773 )

Tanjung:
☎️ @ahmadncex ( 082354609696 )

Batulicin: ☎️ @ifuelalayong ( 085391070122 )

Bagi pihak yg berminat dalam sponsorship acara bisa hubungi @aananshri ( 081250411577 )
#4nniversaryStandupSouthBorneo #TawaMatanBanua #BawaBatanangMarina #eventkalsel #visitkalsel2016

Begitulah isi caption dari akun official instagram stand up comedy Banjarmasin yang mengumumkan sebuah event besar bertajuk Tawa Matan Banua. Acara ini akan diisi oleh komika-komika dari komunitas stand up komedi lokal.

image

image

image

image

Masih banyak lagi komunitas-komunitas stand up lokal yang akan ikut menggemparkan panggung Tawa Matan Banua. Dan tidak lupa pula dua komika nasional yang siap membuat perut anda sakit karena tertawa pada acara TMB  nanti di Gedung Balairung Sari.

image

image

Catatan:

Untuk para cowok-cowok jomblo, acara ini tidak hanya dijadikan ajang mencari hiburan melainkan juga bisa dijadikan ajang berburu jodoh. Jadi tunggu apa lagi! Ayo pesan tiketnya segera, hanya seharga 50 rb saja untuk dua hari. Tidak mahal kok, tidak akan membuat dompet anda kehilangan nyawanya.

Lagipula yang akan membuat kantong tipis bukanlah membeli tiket Tawa Matan Banua, melainkan mengajak pacar shoping di bulan. Karena harga transportasinya sendiri sudah akan membuat anda jadi gelandangan, belum lagi pihak NASA tidak bisa menjamin bahwa ada sebuah mall dibulan.

Acara ini tidak hanya ditargetkan pada orang-orang di Kalimantan Selatan saja, untuk pecinta Stand Up Komedi diluar Kal-Sel pun bisa ikut serta. Bahkan kami sudah menyediakan tiket untuk mereka dari luar bumi, berikut dengan jaminan bebas parkir alat transportasi (untuk mereka yang dari luar bumi atau diluar alam kita).

Terimakasih, salam sejahtera dan jangan lupa siap kan diri anda untuk menikmati setiap detik hiburan yang disuguhkan oleh komika-komika lokal Kalimantan Selatan!

Beberapa Zona Berbahaya versi gue.

image

image

– Friendzone : Kayaknya zona ini udah jadi sebuah pengetahuan umum deh ya, kalau masih ada yang belom tau arti dari zona ini, mungkin bisa kita pastikan dia tinggal di goa.

– Ojekzone : Lo bagi dia cuma macem tukang ojek, yang gratisan, dibutuhin cuma buat nganterin dia pergi doang. Nyelekit, apa lagi kalau dia minta dianterin sama lo untuk pergi kerumah suaminya.

– BudakZone :  Bagi dia, lo itu cuma budaknya. Lo ngarep ke dia, tapi dia nya butuh lo cuma buat disuruh-suruh doang. Masangin pembalut waktu dia lagi haid, misalnya.

– CelanaDalemZone : Lo penting banget bagi dia. Saking pentingnya lo selalu sama dia setiap harinya. Tapi sayangnya dia gak pernah mau mengungkit apapun tentang diri lo kepada orang lain, menyembunyikan serapat mungkin diri lo dari orang lain. Kayak celana dalem. Sebagus apa pun celana dalem yang dia pake, dia engga pernah memperlihatkannya pada orang lain. Seunyu apa pun celana dalemnya, tetep aja yang dia banggain celana jeans nya yang terlihat diluar. Seperti itu juga lo, sebaik apa pun sikap lo sama dia, dia cuma ngebanggain cowok lain dihadapan temen-temennya.

– SosialMediaZone : Seperti hal nya sosial media, lo sama dia temenan. Dia ngeposting apapun disosial media nya, lo cuma bisa stalking doang. Lo temenan sama dia, tapi hubungan kalian cuma kayak pertemanan disosial media, tanpa sapa dan sepatah kata. Karena lo tahu, dia selalu ngacangin notifikilasi dari lo, sedangkan dia begitu agresif membalas notifikasi dari orang lain.

– KelinciPercobaanZone : Lo hanyalah salah satu dari bahan percobaan dia. Sebelum dia melancarkan serangan gombal mautnya, atau tehnik menaklukkan hati gebetannya, atau segala ide-ide segar untuk membahagiakan pacarnya, dia akan mengapresiakan nya terlebih dahulu kepada lo. Terus dia akan mengobservasi seberapa besar keberhasilan rencana tersebut, jika berhasil, maka doi tinggal mengeksekusi rencana itu pada targetnya.

– UpilZone : Ada waktu dimana dia bakalan nyari elo buat dibuang. Kayak upil gitu deh.

– ReinkarnasiZone : Dia merasa nyaman sama lo, karena, lo mirip sama orang yang dia sayang tapi udah meninggal. Misalkan, dimata dia, muka lo mirip sama almarhum kakeknya.

– KakekNenekZone : Zona dimana lo manggil dia nenek, dan dia manggil elo kakek, semacam bentuk panggilan sayang gitu. Akan tetapi, hubungan lo sama dia engga ada spesialnya selain cuma temenan. CUMA TEMENAN! Gitu aja terus sampe ketek lo beruban.

– WikipediaZone : Zona dimana lo cuma dijadiin tempat buat dia nyari informasi mengenai orang yang dia suka, dan ya, sudah pasti gebetan dia itu adalah teman lo sendiri.

– Skrips(h)i(t)Zone : Dia butuh lo cuma mau dibantuin nyelesain skripsi dia doang, pas dia udah wisuda, jangan kan buat balik ke elo, ingat elo aja udah syukur alhamdulillah banget.

– TempatCariJodohZone : Waktu dia lagi jomblo, dia bakalan datang ke elo buat….. MINTA DICARIIN PACAR SAMA LO. Lalu suatu saat dia putus dan ngejomblo lagi, terus dia datang lagi ke elo dan…… Ya begitu aja terus sampai Mak Erot bisa manjangin umur.

Udeh ah, bosen gue nulisnya. Intinya jangan terlalu banyak menaruh harapan sama gebetan. Yang udah punya pacar aja bisa ditinggalin sewaktu-waktu. 😂

Will You Marry Me?

image

image

“Makasih, kamu selalu bisa bikin aku merasa nyaman.”

Aku termenung. Mencerna ulang semuanya. Didepanku, kamu mematung, tanpa kata, namun dari bola matamu tersirat rasa terharu teramat besar. Didepanmu, ia tersenyum lembut. Meskipun wajahnya terlihat tak kalah tegang sama seperti raut wajahku saat ini. Aku yakin ritme detak jantungnya sama sepertiku, menghentak-hentak, seolah ia sedang meronta-ronta untuk meloncat keluar dari tempatnya. Bukan hanya dia yang merasakan ketegangan ini, aku pun juga, bahkan ada perasaan takut yang amat mendominasi.

Hening. Tak ada satu pun dari kita yang berbicara. Dia yang dengan harap-harap cemas menunggu jawabanmu dan membiarkanmu berpikir sejenak, kamu yang sedang sibuk mencari keputusan yang ingin kamu ambil, dan aku yang membisu ditengah-tengah kalian menikmati rasa denyut sakit didadaku.

“Heh, kamu bisa engga sih jangan terlalu baik sama aku? Entar aku jatuh cinta sama kamu lho. Hehehe.”

Seharusnya, aku segera membunuh perasaan ini. Membiarkan perasaan ini berkembang biak sama saja dengan hal nya bunuh diri. Atau, paling tidak aku berhenti menjadi pria pengecut, melangkah terlebih dahulu untuk mengutarakan perasaan yang telah lama ku sembunyikan. Sebelum dia, pada saat ini, mengutarakan perasaannya padamu tepat dihadapanku.

“Nadia Prasasti, aku menyukaimu. Aku mencintaimu. Dihadapan sahabat kita, Davian, aku bersumpah akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakanmu.” Ia berhenti sejenak, menyelami bola matamu yang berbinar haru. Senyum manis itu masih terpatri dibibirnya, dan ku lihat dari bola matamu, kamu mengagumi senyumnya.

Kamu tahu? Disini, aku merasa ada yang menghimpit jantungku. Sedih, marah, dan cemburu bercampur aduk jadi satu. Aku tak tahu yang mana lebih mendominasi, rasanya otakku sejenak berhenti bekerja, aku tidak bisa berpikir. Aku ingin lari, menjauh sejauh mungkin.

“Will you marry me?” Ulangnya sekali lagi.

Sungguh, tubuhku membatu. Dengan semua persendian yang terasa terkunci, membuatku tak bisa segera menjauh. Aku ingin segera pergi, tak rela melihat hal ini lebih jauh lagi.

“Antara kamu sama Nathan ya? Jelas kamu lah, Dav!”

Dia menggenggam tanganmu, tatapannya mengirimkan sinyal bahwa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Malam ini, tepat dihari ulang tahun mu, hadiah istimewa yang ia berikan untukmu.

Melepaskan genggaman tangannya dari tanganmu, tangannya mengambil kotak kecil berwarna merah marun yang dihiasi pita kecil berwarna putih. Aku tahu apa yang ada didalamnya.

Saat kotak terbuka, bukan hanya kamu yang terkejut, aku pun juga. Disana, cincin emas dengan berlian kecil yang berkilau, seindah bola matamu, kilauannya bersaing ketat dengan binar bola matamu. Dan aku tahu, cincin itu yang kamu idam-idamkan selama ini. Kamu pernah mengatakannya, kelak, kamu ingin pria yang melamarmu dengan cincin tersebut. Dan apa yang kamu cita-citakan pada akhirnya terwujud.

“Alasannya? Apa ya?”

“Hmm, kamu selalu bisa ngertiin aku Dav. Selalu bisa bikin tersenyum saat aku lagi sedih. Dan aku merasa nyaman setiap kali sama kamu.”

“Eh ngomong-ngomong, kok kamu cuma nanya kayak gini sih?! Engga ada niat buat nembak atau gimana gitu?! Jangan-jangan kamu cuma mau iseng doang ya?!”

Jangan. Ingin aku berteriak, mencegahmu untuk mengangguk atau sebagainya. Tapi, tubuhku hanya mematung disini. Ku lihat bola matamu yang menyiratkan perasaan terharu, seketika ketakutan menyelimutiku.

Kumohon, katakan tidak. Aku lah yang pantas membahagiakanmu. Salahku, terlalu berlarut-larut memendam perasaan ini. Maaf karena aku hanya ingin ‘timing’ yang tepat untuk mengutarakannya. Beri aku waktu, sebentar saja, aku pasti akan mengutarakan apa yang ku rasa. Seperti pria dihadapanmu ini, aku ingin berada diposisi dia. Jadi kumohon untuk katakan lah tidak padanya.

Dan anggukan mu meluluh lantakkan segalanya. Semuanya terasa terhenti. Malam yang kehilangan dinginnya, cahaya lampu taman yang lenyap ditelan kegelapan, kamu dan dia yang mengabur seolah sosok kalian hanyalah fatamorgana. Ada sesuatu yang tajam menusuk-nusuk jantungku, sangat sakit dan menyiksa. Semua telah berakhir, malam ini, separuh hidupku telah sirna.

Jawabanmu menghancurkan hidupku. Aku, tak rela kehilangan matahari hidupku.

******

“Ish! Mana ada yang mau sama wanita kayak aku ini. Kecuali kamu Dav! Hihihi..”

Malam ini, kamu terlihat begitu mempesona. Gaun pernikahan berwarna putih itu nampak berkilauan, kamu cantik, sangat cantik. Mungkin, terlalu berlebihan jika hatiku masih berharap bahwa pria disampingmu saat ini adalah aku. Atau mungkin saja, kamu sadar kalau ada yang sedang terluka disini, aku yang berdiri disudut ruangan, menikmati nyeri diulu hati mengamati kamu dan dia yang nampak serasi.

Aku masih tak memiliki keberanian bertemu denganmu. Aku hanya takut jika kamu melihatku, pertahananku runtuh seketika. Seperti dua bulan yang lalu, saat dia melamarmu. Saat sahabatku sendiri merebut dirimu dariku. Saat semua siksaan ini dimulai.

“Dav, aku dan Nathan sudah siap untuk melakulan pernikahan. Menurutmu bagaimana?”

Aku tak sehidup seperti dulu. Tersenyum miris, menikmati segala elegi luka yang menyebalkan. Hah, ini terlalu berlebihan. Aku tak bisa terus-terusan mengeluh. Seharusnya aku turut berbahagia, bukan malah terpuruk dalam kesedihan tanpa batas seperti ini.

Mungkin memang benar, terkadang cinta tidak harus memiliki. Ada kalanya mencintai dengan artian merelakan, membiarkan orang yang dicintai berbahagia dengan orang lain, karena Tuhan selalu memberi yang terbaik pada hamba-Nya. Seperti cerita kita.

Tapi, merelakan tak semudah membalik telapak tangan. Aku perlu waktu, entah berapa lama. Semoga aku bisa bertahan, dan berakting sebagus mungkin dihadapanmu. Agar yang kamu lihat dariku nampak biasa-biasa saja. Kamu tak perlu tahu perasaanku, biar lah semua ku pendam dan ku nikmati sendiri.

Dan sayangnya aku tetap tak bisa membohongi diriku sendiri, aku mencintaimu. Aku masih berharap bahwa aku lah yang saat ini berada diposisi pria disampingmu. Jadi, jika suatu saat Tuhan memberiku kesempatan. Akan kah aku bisa mengucapkan satu kalimat untukmu?

“Will you marry me?” Gumamku lirih, terisak pelan dengan sebulir air mata yang tak bisa lagi ku bendung.

Tititsyndrome

image

Yak, hai gue balik lagi. Udah lama gue enggak nge(go)blog karena saking khusyuknya ngejomblo. Hari ini gue mau bikin catatan tentang salah satu makhluk bernama Iis yang bisa kita sebut seorang tititholic. Yang engga kenal sama cewek jones satu ini, engga perlu baca artikel ini ya. Tapi untuk rekan sehidup semati di NRP ( baca disini ) pasti tahu siapa si Iis ini.

Eh tapi udah pada tau kan apa yang namanya titit itu? Engga mungkin lah ya engga tau. Secara kalian para manusia kan dulunya keluar dari sono. Kalau gue jelasin, gue takutnya artikel kamfret ini malah kayak JAV. Ada mesum-mesumnya gitu…

Kembali kepembahasan awal. Iis, salah satu cewek jones yang memiliki hobi ngebayangin titit orang. Gue salah satu korbannya. Jujur, gue merasa dilecehkan disini. Pasalnya, seumur hidup gue engga pernah ada satu pun makhluk yang berani membahas titit gue. Secara pribadi pula.

Gue kira si kampret ini, eh maksud gue si Iis ini cewek yang polos. Tapi tetnyata gue salah. Kayaknya otak si Iis udah kemasukan parasit, yang bikin kinerja otak dia cuma mikirin titit orang doang.

Semesum-mesumnya gue, gue engga pernah tuh ngebayangin alat kelamin orang lain. Ya mau di bayangin kayak gimana juga tetap aja kan bentuknya sama. Paling ukurannya doang sih yang beda-beda. Misalkan nih ya kayak ‘punya’ gue yang kecil. Eh kok malah ngebahas aib gue sih, artikel ini kan seharusnya ngebongkar aib si Iis.

Kalau cewek paling anti dengan tema obrolan seputar berat badan, cowok itu paling anti ngomongin soal ukuran tititnya. Sama lawan jenisnya pula. Contohnya gue. Ini aib men. Tapi Iis dengan seenaknya ngebayangin titit gue yang katanya begitili kecil sampe-sampe dia ngira gue seolah engga punya titit. Kampret. Tentu gue harus segera menkonfirmasi hal ini agar tidak terjadi kesalah pahaman yang berkepanjangan.

image

Seperti gue bilang sebelumnya. Cowok paling sensitif kalo udah soal ngomongin keadaan tititnya. Ketika Iis bilang mau mastiin gue laki apa bukan karena hasil hipotesa nya tentang titit gue yang amat kecil. Gue mengklaim bahwa titit gue engga sekecil yang dia bayangin, bahkan titit gue sama jari kelingkingnya Adul pun masih gedean titit gue (WALAUPUN PERBEDAANNYA CUMA SEDIKIT SIH).

Berkat itu semua, gue berkesimpulan bahwa tipe-tipe cewek macem Iis berpontensi mengalami Tititsyndrome. (Eh tulisannya udah bener kan tuh?)

Kalau kalian beranggapan artikel ini terlalu porno, rasis atau apalah itu. Maka jangan dilanjutkan buat membacanya ya. Gue sih engga perduli mau lo marah atau gimana. Wekawekaweka.

Baiklah, pasti lo semua bertanya-tanya apa itu Tititsyndrome kan? Itu adalah sebuah gangguan psikologis dimana penderitanya mengalami halusinasi tentang sesuatu yang panjang yang tiap pagi berdiri tegak dalam celana seorang cowok. Benda itu emang selalu molor, tapi akan bangun dalam keadaan dan suasana yang diperlukan. Misalkan disaat pemiliknya lagi nonton bokep.

Cewek yang sudah mengalami Tititsyndrome terlalu parah akan selalu dihantui oleh bayang-bayang rudal penghancur keperawanan wanita tersebut. Cara nyembuhinnya sih gampang, sering-sering aja nonton bokep. Gak deng, canda.

Gue maklum aja, remaja emang memiliki tingkat rasa penasaran paling tinggi. Tapi engga kayak gini juga keleus.

Balik lagi ketopik semula. Lo pasti bisa bayangin kan gimana perasaan gue? Ketika ada seorang cewek yang menegaskan bahwa ‘barang berharga gue ini’ begitu kecil. Itu sama aja dia menganggap titit gue ini engga bakalan berguna.

Padahal, titit gue ini amatlah canggih. Seriusan, titit gue ini keluaran terbaru lho. Ada applikasi Bluetooth, BBM, Line, Twitter, dan MP3 Player juga. Udah kayak Smartphone ye. Tapi ini sih namanya Smarttitit.

Astaga, berapa banyak dosa yang udah gue buat karena menulis artikel ini ya?

Intinya, gue mau ngasih pesan moral buat temen gue (sumpah gue nahan ingus pas nyebut makhluk kamfret ini sebagai temen) yang bernama Iis. Hentikanlah kebiasaanmu yang senang membayangkan titit orang lain sobat.

Gue paham perasaan iri lo karena engga punya ‘sesuatu’ yang kayak kami didalam celana dalem lo. Syukuri lah karena lo engga pernah merasakan sesak pada celana dalem lo ketika dipagi hari. Bersyukurlah karena lo engga bakalan terjerumus dalam perbuatan hina yang namanya sabunan. Bersyukurlah lo gak pernah ngerasain gimana ngenesnya pake sarung selama seminggu sehabis sunat.

Intinya, jadilah cewek normal Is. Gue miris sama lo yang kayak gini, gue takutnya gara-gara hobi aneh lo itu, lo ngejomblo sampe hari kiamat. Jadi, berhentilah sebelum terlambat Is. Ingat kata pepatah, “Penyesalan selalu datang terlambat. Kalau datangnya dipermulaan itu namanya pendaftaran. Kalau datangnya engga dijemput dan pulangnya engga dianter, itu namanya jailangkung. Kalau engga dateng-dateng sih namanya bang Toyib.” Yap, sekian dan terimakasih. Salam soptex! Wabillahi taufik walhidayah, tsummassalamu’alaikum…

image

image

Maaf, gak ada waktu buat edit-editan. Jadi kalo bahasanya rancu ya maklumi aja, gue lagi sibuk banget soalnya. Maklum, gue kan jomblo yang banyak kerjaan.

Prayforkamuyangditinggalkawinsamagebetan

image

image

Catatan ini hanya bertujuan untuk membantu salah satu teman kami yang sedang berusaha move on.

Kawan, sakit hati dalam hal percintaan itu wajar. Gagal dalam menjalin sebuah hubungan itu sudah biasa. Tenanglah, karena ditolak sama gebetan sebelum sempat pdkt-an itu lebih mengenaskan daripada ditinggal kawin oleh gebetan.

Kalau kamu percaya dengan karma itu berlaku? Siapa tahu ada kemungkinan yang mungkin saja terjadi, misalnya ‘dia’ merasakan apa yang kamu rasakan. Mungkin suatu saat suaminya menikah sama cewek lain yang juga berstatus gebetan mu.

Berpikir positiflah, ia yang memilih orang lain untuk menjadi seorang imam dalam keluarganya dan bukan dirimu. Mungkin karena kamu tidak termasuk dalam kategori pria idamannya. Kamu pasti kurang mapan dimatanya, atau mungkin wajahmu kurang tampan, atau mungkin juga kamu kurang jantan dan itu salahmu sendiri tidak menunjukkannya saat ada kesempatan.

Jangan bersedih kawan, karena laki-laki sejati tidak akan pernah bersedih hanya karena masalah wanita. Kecuali kamu bukan laki-laki sejati, maka silahkan menggunakan sisa umurmu untuk terus menyesali apa yang sudah terjadi.

Semua orang pasti sudah disediakan jodohnya masing-masing oleh Tuhan, mungkin saat ini jodohmu sedang berada digenggaman Tuhan. Atau mungkin jodohmu masih dalam proses pembuatan oleh kedua orang tuanya. Yang pasti, berharap lah agar jodohmu tidak memiliki jenis kelamin yang sama denganmu.

Jika ada satu wanita yang menyakitimu, percayalah kalau diluar sana ada sejuta wanita yang siap membahagiakanmu. Tapi apa kah kamu mengenal sejuta wanita itu? Jika tidak, selama nya kamu akan terjerat dengan masa lalu bersama dia. Dia yang menyakiti hatimu, menorehkan luka perih dalam perasaanmu yang ia buang hanya demi orang lain.

Terkadang, rencana kita memang tidak sejalan dengan takdir Tuhan. Semua pasti ada hikmahnya. Disaat kamu bisa bersabar menghadapi cobaan dimana kamu ditinggalkan kawin oleh gebetan, percayalah kalau suatu hari kamu akan meninggalkan gebetanmu dan menikah dengan orang lain.

Menghargai sebutir nasi.

image

image

(Gambar diambil dari : http:// http://www.google.co.id/search?q=abstrak&hl=id&tbm=isch&biw=1366&bih=578#imgrc=2aye51WjYcVyLM%253A%3Brun12KnpN6DEeM%3Bhttp%253A%252F%252F2.bp.blogspot.com%252F_14grgzfQGYA%252FTPCJrgkhxCI%252FAAAAAAAACLI%252FtuvgC3y2wgw%252Fs1600%252FButterfly-abstract-wallpaper-15.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fwww.digaleri.com%252F2012%252F05%252Fwallpaper-abstrak-keren-dan-cantik-30.html%253Fm%253D1%3B1280%3B1024)

Suatu hari, saya dan ayah makan siang bersama. Hal yang sangat jarang terjadi diantara kami berdua. Jujur saja, dikeluarga saya tidak ada sistem makan bersama seperti disinetron-sinetron seperti itu. Ibu hanya akan memasak, dan kami tinggal makan saja kalau merasa lapar. Tidak ada acara untuk saling menunggu satu sama lain.

Dan kebetulan, pada saat itu saya dan ayah makan siang bersama. Kami makan dalam kesunyian, karena ayah sangat tidak menyukai jikalau ada yang sedang makan sambil berbicara barang sepatah kata pun. Terkecuali ada hal yang penting, itu pun terkadang ayah saya tidak langsung merespon. Melainkan beliau menyelesaikan makanannya terlebih dahulu.

Pada saat itu, saya punya kebiasaan makan yang berantakan. Mulai dari beberapa butir nasi yang jatuh kemeja, sampai butir-butir nasi yang masih tersisa dipiring makan. Ibu sering menegur cara makan saya, yang kata beliau lebih mirip seperti seekor ayam.

“Mau kemana? Nasi kamu belum habis.” Kata ayah saya ketika beliau selesai makan. Saya yakin pada waktu itu beliau ingin menambah, tapi mengurungkan niat karena ingin berbicara pada saya.

Saya berhenti dan menatap ayah dengan tatapan penuh pertanyaan, “Udah kok Bi. Nih udah habis.” Kata saya berniat bercanda.

Ayah menunjuk butiran-butiran nasi yang tersisa dipiring saya serta yang berserakan diatas meja.

Beliau berkata, “Itu belum dihabiskan.”

Tentu saja saya tidak menyangka ayah menyuruh saya untuk memakan nasi-nasi yang sudah tergeletak diatas meja. Jijik. Satu kata yang saya rasakan ketika melihat butiran-butiran nasi diatas meja itu.

Dirumah ini, yang paling saya takutkan adalah kemarahan ayah. Ayah memang tidak pernah main tangan atau mengomeli dengan anak-anaknya jikalau sedang marah pada kami, beliau hanya akan berdiam diri saja. Dan beliau akan membisu selama salah satu dari kami yang menjadi sebab beliau bersikap seperti itu belum meminta maaf. Karena pasti rasanya tidak nyaman sekali tinggal dirumah sendiri tapi tidak dihiraukan oleh orang tua. Cara ayah memarahi anak-anaknya memang sangatlah ampuh. Terbukti, semua orang dirumah ini sangat takut membuat ayah marah.

Dengan berat hati saya memungut kembali nasi-nasi diatas meja itu. Karena merasa jijik, saya kesulitan menelannya. Tapi saya usahakan agar nasi-nasi itu jatuh kedalam perut saya.

Selesai mencuci piring bekas makan saya, saya kembali kekamar. Kebiasaan saya jika berada dirumah hanya mengurung diri dikamar, menggambar dan menulis adalah hobi saya.

Tiba-tiba ayah masuk kedalam kamar saya dan mengintrupsi kegiatan saya. Ayah duduk diatas kasur, dan saya diminta ayah turun dari kursi dan duduk didepan beliau. Saya menurut, biasanya jika seperti ini akan ada petuah yang beliau berikan untuk saya.

“Kamu tahu kenapa Abi menyuruh kamu memakan nasi yang berceceran diatas meja?” Ayah membuka suara setelah menyalakan rokok kreteknya.

Saya menggelengkan kepala, “Engga tahu Bi.”

“Makanan itu sangat berharga nak, didunia ini banyak orang yang berjuang mati-matian hanya untuk mencari sesuap nasi.”

“Bahkan sampai ada yang menjual dirinya sendiri hanya untuk mengenyangkan perut. Kamu harus tahu, kehidupan kita dahulu jauh berbeda dari yang sekarang.”

Ayah terdiam sejenak, saat itu saya menundukkan kepala seraya mencerna kembali kata-kata ayah.

“Dahulu, sewaktu kamu masih berusia dua tahun dan juga Umi yang mengandung adik kamu, kita sangat kesulitan untuk mendapatkan makanan. Abi sudah kesana kemari mencari pekerjaan, tapi tidak ada satu pun yang mau menerima abi untuk bekerja.”

Rasanya, setiap kali mendengar cerita itu dadaku terasa sesak. Saya tidak tahu bagaimana perasaan kedua orang tua saya pada saat itu yang berjuang mati-matian untuk menghidupi kami.

“Setiap kali melihat kamu yang menangis ingin pergi kewarung, hati Abi seperti teriris. Mau bagaimana lagi, jangankan memberikan kamu uang untuk membeli permen. Membayar hutang keperluan kita pun diwarung saja Abi tidak mampu.”

“Ketika Abi memutuskan untuk kerja serabutan, alhamdulillah Abi bisa membayar sedikit demi sedikit hutang kita. Tapi itu pun tidak pernah lunas karena jumlah pengambilan barang-barang jauh lebih besar dari pada pembayaran.”

Ayah mengisap rokoknya, asap mengepul ketika ayah menghembuskannya.

“Untuk memasak, kita harus meminjam kompor dan panci pada tetangga sebelah rumah. Untung saja mereka tidak pernah bosan meminjami kita alat-alat memasak.” Ada senyum miris yang tersungging dibibir beliau.

“Maka dari itu, Abi paling tidak suka kalau anak-anak Abi membuang-buang makanan. Bahkan satu butir nasi sekalipun.”

“Ini bukan pelit namanya, Nak. Rasulullah bersabda kalau disepiring nasi itu hanya ada sebutir nasi yang dirahmati dan diberkati. Maka makanlah hingga piring mu bersih. Siapa tahu satu butir yang dirahmati dan diberkati itu terdapat diantara nasi yang tertinggal itu kan?”

Saya semakin menundukkan kepala dan tenggelam dalam pikiran saya yang berlayar entah kemana. Banyak pertanyaan yang bertengger dibenak saya, tapi tidak ada satu pun yang saya ketahui jawabannya.

Bagaimana jika saya berada diposisi itu? Bagaimana misalnya, suatu ketika Tuhan menguji saya dengan rasa lapar saat tidak ada satupun makanan yang akan saya dapatkan. Bagaimana jika saya sudah harus menjalani hidup mandiri, apakah saya bisa tahan menghadapi kehidupan yang mungkin saja lebih keras dari kehidupan kami di masa lampau?

Bahkan sampai saat ini pun saya belum menemukan jawabannya.

*****

Awalnya saya menolak mentah-mentah ide ayah untuk pindah kekampung halaman ibu. Saya menentang karena jelas saya pasti harus kembali membiasakan diri pada lingkungan baru. Hal yang menurut saya sangat sulit karena pada dasarnya saya memang memiliki kelemahan dalam hal bersosialisi. Tapi keputusan ayah memang sudah bulat, begitu pula dengan ibu. Ibu bahkan menjadi yang paling antusias karena kami akan pindah ketanah dimana beliau dilahirkan.

Akhirnya, tepat pada akhir bulan November kami sekeluarga pindah. Ayah mendapatkan rumah kontrakan dengan harga sewa yang murah, namun jauh dari desa nenek sekaligus desa kelahiran ibu. Masalah sekolah saya dan adik saya, ayah memutuskan untuk menyekolahkan kami didesa kelahiran ibu. Karena disana, kakak Ibu lah kepala sekolahnya. Kebetulan pada saat itu saya masih sekolah kelas lima SD, dan adik saya kelas tiga SD.

Saya dan adik saya dititipkan dirumah kenalan ibu, karena ayah merasa tidak enak jika harus menitipkan kami dirumah nenek mengingat rumah beliau sangat kecil. Mungkin bisa saja kami dititipkan dirumah kakak Ibu, tapi keluarga kami memang tidak dekat dengan beliau.

Memang, pada awalnya sang empunya rumah bersikap begitu baik. Mereka sangat ramah dan perhatian dengan kami, bahkan beliau –seorang pria berumur empat puluh tahunan- membantu kami dalam hal menjadi pribadi yang tidak boros. Kami hanya diberi uang saku sebanyak lima ratus perak setiap kali mau pergi sekolah, alasannya karena kami tidak boleh menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak perlu.Ya, uang untuk biaya kehidupan kami memang dititipkan pada sang empunya rumah.

Sampai pada akhirnya beliau menunjukkan sifat aslinya. Setelah satu bulan kemudian, sikap beliau mulai berubah. Beliau lebih sering meninggalkan kami sendirian dirumahnya, dengan keadaan tidak ada makanan yang bisa dimakan. Pada saat itu, saya dan adik saya tidak memiliki keahlian memasak. Lagi pula, didesa kami sistem memasaknya masih memakai tungku.

Awalnya saya sih biasa-biasa saja, karena sang empunya rumah masih memberi kami uang untuk jajan. Lama kelamaan tidak ada uang jajan yang sampai ditangan kami, padahal saya yakin ayah selalu memberi uang pada beliau setiap minggu kala berkunjung menjenguk kami. Apalagi, semakin hari beliau tidak memberi kami uang saku sekolah.

Setiap kali saya meminta, selalu saja ada alasan yang beliau buat. Untung saja pada waktu itu saya masih kecil, atas dasar takut saya hanya diam saja atas perlakuan beliau.

Hingga pada akhirnya, suatu ketika setelah kami pulang sekolah. Beliau langsung pergi meninggalkan kami, saya sempat bertanya kemana beliau ingin pergi. Beliau menjawab ingin nonton TV dirumah saudaranya. Rumah saudara beliau memang tidak jauh, hanya berjarak empat buah rumah saja.

“Mang, saya lapar. Mamang masak kan?” Tanya adik saya yang saat itu selesai mengganti pakaiannya.

“Ada dipanci.” Kata beliau lalu pergi.

Kebetulan pada saat itu saya masih belum lapar, jadi saya memilih untuk berbaring diatas tikar diteras rumah. Sampai tiba-tiba adik saya berteriak memanggil saya dari dapur. Saya segera menghampirinya.

“Kenapa dek?”

“Ini bang. Nasinya masih bagus atau sudah basi?” Dia membuka tutup panci yang ikut gosong karena ikut tersambar api tungku.

Saya mengamati keadaan nasi yang diatasnya ada seiris ikan asin dan setengah telur dadar sisa kemarin malam, bau anyir seketika menelusuk masuk kedalam indra penciuman saya. Saya langsung teringat kalau nasi ini adalah nasi  bekas tadi malam. Mata saya menelusuri sekitar dapur, hingga fokus mata saya tertuju pada karung beras yang telah mengempis. Kalau saja ada beras, saya pasti akan memasak walaupun saya tidak bisa.

“Nasi nya basi dek, berasnya juga habis. Bentar, abang tanya sama Mamang dulu.”

Saya segera pergi menyusul sang empunya rumah yang saat ini sedang berada dirumah saudaranya. Saat saya sampai, beliau sedang asik menonton televisi sambil bercengkrama dengan saudaranya.

“Mang, beras habis. Abi ada ngasih duit kan? Boleh saya minta buat beli beras?”

Beliau menoleh kearah saya, “Abi kamu engga ada ngasih uang tuh! Lagian kan dipanci ada nasi sama ikan asin.”

“Sudah basi mang.”

“Ah bohong! Masih bagus itu. Makan itu aja, tadi Mamang juga makan nasi itu kok. Engga basi sama sekali.” Beliau menyalakan sebatang rokok kreteknya, “Sudah sana kamu pulang.”

Ingin sekali saya melampiaskan emosi pada beliau, tapi saya sadar hal itu hanya akan merugikan saya. Lagi pula, saya sadar bagaimana posisi saya. Saya hanya menumpang saja dirumah beliau. Akhirnya saya pun pulang dengan keadaan tangan kosong.

Adik saya menatap saya dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah, tapi semua itu lenyap ketika melihat wajah saya yang lesu. Adik saya bertanya kenapa saya murung seperti ini, dan saya pun menceritakan semuanya.

“Jadi kita harus makan ini ya kak?” Tanya adik saya sambil menatap penuh keraguan pada nasi yang terlihat begitu lembek dan berair serta beraroma tidak enak.

Saya ingin menggeleng, tapi saya takut dia kecewa. Saya paling tidak suka melihat adik saya bersedih. Melihat adik saya yang terus memegang perutnya karena kelaparan, terlintas sebuah ide diotak seorang bocah kecil yang belum mampu berpikir secara dewasa.

“Kamu lapar dek?” Tanya saya.

Dia mengangguk, “Iya bang, adek makan ini aja ya bang?”

Saya mengangguk dan segera mengambil dua buah piring. Saya menyendokkan sedikit nasi dipiring yang untuk adik saya, hanya sedikit mungkin sekitar dua suapan untuk anak kecil. Dan menaruh ikan asin serta setengah telur dadar sisa tadi malam untuknya. Untung saja telur dadar itu masih layak untuk dimakan.

Setelahnya, saya menaruh semua nasi basi itu dipiring saya. Alasannya hanya satu, saya tidak ingin hanya adik saya yang memakan nasi itu. Jika saya membuang semua nasi itu, maka bukan hanya saya yang akan kelaparan. Adik saya bermaksud untuk membagi telur dadar itu, tapi saya mencegahnya.

Ketika saya menyuap nasi basi itu kemulut saya, semua perkataan ayah pada waktu itu terngiang-ngiang didalam benak saya. Sejak saat itu, saya bersumpah tidak akan pernah menyia-nyiakan makanan barang sedikit pun.

Keesokan harinya, saya jatuh sakit. Ayah dan ibu segera datang untuk menjemput saya. Awalnya ayah dan ibu menolak membawa adik saya karena dia harus sekolah besok. Tapi saya terus memaksa hingga pada akhirnya mereka menuruti kemauan saya. Sesampainya dirumah, saya menceritakan serinci-rincinya alasan kenapa saya bisa jatuh sakit seperti ini. Ayah dan ibu awalnya memang tidak percaya, tapi adik saya juga membantu meyakinkan mereka.

Ayah begitu murka, kalau saja tidak ada Ibu. Mungkin Ayah akan kembali kedesa untuk sekedar memberi pelajaran pada beliau. Tapi Ibu berhasil menenangkan Ayah.

*****

Ayah selalu mendidik anak-anaknya untuk memiliki sifat mudah memaafkan. Beliau selalu mengatakan, memaafkan kesalahan orang lain memang sangat sulit. Meskipun kamu tidak ikhlas memaafkan kesalahannya, asalkan kamu tidak pernah menyinggung sedikitpun masalah itu maka kamu akan terbiasa dan berakhir merasa ikhlas. Memaafkan kesalahan orang lain memang membutuhkan waktu yang lama.

Saya mengerti ayah ingin menjadikan anak-anaknya memiliki pribadi yang baik, tapi jujur saja sangat sulit rasanya untuk memaafkan seseorang yang masuk kedalam list orang-orang yang dibenci. Bahkan untuk tersenyum padanya pun sangat sulit.

Saya memang tidak marah tentang nasi yang sudah basi itu pernah masuk kedalam perut saya. Hanya saja, saya tidak terima nasi basi itu sendiri masuk kedalam perut adik saya. Meskipun hanya sedikit. Untuk itu, saat ini, saya dilanda kebimbangan dalam hal bersikap pada pria yang pernah menampung kami dirumahnya tujuh tahun yang lalu.

Saya yakin, pria itu juga tidak akan lupa apa yang pernah ia perbuat pada kami. Sekarang, saya sudah bukan seorang anak kecil lagi. Beliau nampak segan memandang kearah saya, mungkin karena setiap kali melihat saya, selalu ada rasa bersalah yang menghinggapi beliau. Jauh dilubuk hati saya, saya merasa senang.

Setelah selesai membaca do’a Maulid Habsyi, acara selanjutnya adalah makan-makan bersama. Kami sekeluarga merayakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad selalu dikampung Ibu. Kebetulan saya disuruh oleh ayah untuk membantu menghidangkan makanan untuk para undangan.

Ketika semua orang sudah mendapatkan makanannya masing-masing, ayah mempersilahkan semuanya untuk menyantap hidangan. Tiba-tiba saja seseorang menarik tangan saya, saya terduduk tepat didepan pria itu. Beliau tersenyum, dan saya membalas senyum itu.

“Silahkan dimakan mang.” Kata saya berusaha bersikap ramah.

Beliau mengangguk, ada keragu-raguan yang terpancar dari mata beliau.

“Kamu tidak makan?” Tanya beliau setelah menyendok nasi dipiring.

“Saya bisa nanti aja makannya Mang.”

Saya yakin beliau ingin membicarakan kejadian tujuh tahun yang lalu. Tapi ‘mungkin’ tidak ada keberanian yang beliau miliki. Pada akhirnya, kami berdua saling membisu. Saya menyibukkan diri untuk memperhatikan sekitar. Saya tahu ayah sedang memperhatikan saya secara diam-diam.

Ketika beliau sudah selesai makan, saya memperhatikan piring beliau. Teringat akan pesan ayah dan kejadian tujuh tahun yang lalu. Ada sesuatu yang membuat tangan saya bergerak sendiri menjumput beberapa butir nasi yang tersisa dipiring beliau. Bahkan butiran nasi yang berserak dilantai pun tak luput dari perhatian saya.

Beliau menatap saya dengan keheranan. Wajar, pasti beliau berpikir bagaimana seorang anak dari keluarga yang cukup ‘sukses’ bisa bertingkah begitu jorok seperti ini.

Beliau berkata pada saya, “Nasi disana sudah kotor.”

Saya tersenyum, “Lebih kotor mana nasi dilantai ini atau nasi yang sudah basi?”

Mungkin saya tergolong orang yang kurang ajar berbicara seperti itu kepada yang lebih tua. Tapi sejujurnya, saya tidak bermaksud untuk memojokkan beliau. Beliau terdiam, nampak merenungi sindiran saya yang benar-benar tepat sasaran.

“Abi mengajari saya untuk memaafkan kesalahan orang lain, meskipun kesalahannya begitu besar. Abi bilang, Tuhan saja masih memberikan berkah pada orang yang memiliki banyak dosa.” Saya tersenyum simpul, “Berkat Mamang, saya mendapatkan pelajaran yang begitu berharga. Kejadian tujuh tahun lalu membuat saya tidak pernah menyia-nyiakan yang namanya makanan.”

Beliau nampak berkaca-kaca saat menatap saya. Ada rasa bangga yang saya rasakan, mungkin jika saya terlanjur melepaskan emosi dan kebencian saya, cerita ini pasti akan berbeda. Dan mungkin jika saya menyerah pada emosi serta kebencian, saya yakin masalah kecil seperti ini tidak akan pernah selesai. Dan pasti yang akan saya dapatkan hanyalah penyesalan.

Ketika semua orang berpamitan, beliau menyalami saya serta mengucapkan kata-kata maaf berulang kali. Saya memaafkan beliau, tapi sakit hati saya belumlah lenyap sepenuhnya. Saya hanya membiarkan sakit hati ini tetap berada ditempatnya, karena saya yakin waktu sendiri yang akan mengeksekusi perasaan ini. Yang pasti, saya harus belajar dan berusaha untuk memaafkan beliau. Karena Tuhan saja selalu menerima tobat hamba-Nya, meskipun hambanya memiliki dosa yang begitu berlimpah ruah.

Semua cerita disini murni karya asli milik Muhammad Firdaus. Terimakasih telah berkunjung dan berkenan membaca tulisan-tulisan disini. Official Twitter dan ID Line penulis : Bukandaus

PDKT lama tapi engga jadian juga.

image

image

PDKT lamanya minta ampun, boro-boro jadian, doi aja udah punya suami. Lah, salah sendiri kan ngapain PDKT sama istri orang.

PDKT, semua orang pasti udah pada tau apa definisi P-D-K-T itu. Kalau pun belum ada yang tahu, gue rasa orang itu mungkin hidup dijaman Belanda masih mau berniat menjajah Indonesia.

Gue tahu gimana rasanya PDKT-an sama gebetan dalam jangka waktu yang lama, kalau diibaratin bisul, mungkin bisulnya udah segede benjolan dikepala Sin-chan. Namun realita yang terjadi, doi cuma menganggap lu sebatas teman doang dan engga lebih dari pada itu. Friendzone, zona kamfret dimana artinya engga bakalan ada harapan lagi buat lu untuk mencuri hati doi. Karena pada dasarnya, semua perlakuan khusus lo sama dia hanya dianggap biasa-biasa saja. Atau kebanyakannya zona ini muncul saat doi terlalu merasa nyaman dengan lu, mungkin karena lu enak diajak curhat, terlalu humoris, terlalu perhatian dan pengertian sama dia. Bulshit  emang. But, sengenes-ngenesnya Friendzone, masih ngenes yang namanya Komporzone dan coffezone.

Katanya, cewek suka sama temen (cowok) yang memberikan perhatiannya melebihi pacar. Yakali, asal kalian tahu aja ya. Cowok yang memberikan perhatian lebih pada seorang cewek, dan perhatian itu melebihi perhatian dia terhadap pacarnya, maka disana terdapat modus yang tersembunyi. Yeah, artinya cewek itu udah masuk sebagai target calon gebetannya coeg. Tunggu aja tanggal mainnya sampai cowok itu menyatakan perasaannya. Sampai saat itu tiba, mending kalian (para cewek) siapin kalimat penolakan yang engga menstruasi, eh, maksud gue yang engga mainstream.

image

Gaes, ditolak itu emang engga enak banget rasanya. Ditolak itu ibarat kayak lo engga sengaja makan lengkoas didalam opor ayam, ngeselin plus bikin nyesek. Apalagi saat lu ditolak sama gebetan yang alasannya udah jadul banget. Engga mau pacaran karena mau fokus belajar lah. Atau karena lu terlalu baik buat dia lah. Karena lu bla bla bla.

Gue pernah ngalamin hal yang kayak gini. Dan sumpah, itu nyesek banget njir. Rasanya gue pengen minta ganti rugi atas semua modal yang udah gue keluarin pas waktu PDKT-an sama dia. Andai aja sistem ini bisa direalisasikan, gue yakin jumlah angka penolakan di Indonesia bakalan berkurang. Dan populasi jomblo dinegara ini juga bakalan berada diangka terendah. Artinya, dengan sedikitnya jumlah jomblo maka bakalan hemat air karena engga bakalan ada lagi yang berlama-lama dikamar mandi. Eh.

Yang lebih ngenesnya lagi, ketika lo ditolak sama gebetan dengan alasan doi lagi mau fokus belajar dan engga mau main-main dulu dengan yang namanya pacaran. Eh, beberapa hari kemudian doi malah jadian sama orang lain. Sama temen lu sendiri pula. Kan kamfret.

Padahal selama lu PDKT-an sama doi, doi udah ngasih tanda-tanda kalau dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan elu. Belum lagi lu selalu ada buat dia, bahkan saat dia boker pun lo setia dan selalu ada disamping dia. Dan lagi, setiap harinya, lu selalu jadi temen curhat dia dari pagi sampai pagi lagi. Kadang saat lu udah tidur dan nyaris aja mau mengalami mimpi basah, tiba-tiba dia nelpon elu. Dengan sigap elu menjawab telpon dia karena saat itu doi lagi butuh teman untuk curhat. Meskipun lo  lagi ngantuk berat, ileran lo udah siap meluncur disudut mulut, lo tetap setia ngedengerin curhatan dia yang kadang-kadang dramatisnya melebihi sinetron-sinetron hidayah. Yang andai aja lo engga ngantuk pada saat itu, mungkin lo bisa menghayati cerita doi hingga terjadilah acara nangis-nangisan kayak diacara terngehek-ngehek.

image

Semua pengorbanan lo cuma bernilai sia-sia ketika beberapa kalimat sialanyang-entah-siapa-penemunya meluncur bebas dari mulut dia. ‘Maaf kita temenan dulu aja. Aku mau fokus belajar dulu.’ Kalimat pamungkas ini adalah salah satu kalimat yang bakalan membuat kita mati kutu. Siapapun engga bakalan bisa mengintrupsi kalimat ini. Dan bikin kita kehabisan kata-kata tanpa bisa menjawab apa-apa lagi.

Bagi lo semua yang pernah mendapatkan mantra ajaib ini, bersabarlah. Ketahuilah, karena sesungguhnya dunia percintaan itu emang keras. Saat lo berani jatuh cinta, lo harus siap menerima resikonya. Sakit hati, nyesek, dan galau adalah tiga efek samping sekaligus resiko dalam hal percintaan. Kalau lo engga berani merasakan tiga perasaan itu, maka jangan coba-coba buat jatuh cinta.

Emang sih, soal perasaan siapa sih yang bisa ngatur? Engga ada orang yang bisa menolak yang namanya cinta, tapi mungkin, kita dapat mencegah yang namanya jatuh cinta. Ya mungkin bagi yang cowok (yang takut jatuh cinta karena engga mau sakit hati atau semacamnya) bisa berubah haluan jadi makhluk HOMRENG. Mungkin cowok yang berpikiran kayak gini pastilah sudah terlalu frustasi. Alhamdulillah sih ya, walaupun gue jelek banget gue engga pernah tuh berubah haluan jadi HOMRENG.

Sengenes-ngenesnya gue, gue tetap masih suka sama cewek. Gue masih berusaha untuk menjadi pacar bagi seorang cewek, bukan simpanan seorang om-om centil yang doyan sama brondong.

image

Ingat bro, populasi cewek itu jauh lebih banyak dari pada cowok. Ditolak satu; artinya masih ada seribu penolakan lagi. Eh. Maksud gue ya gitu, ditolak sama satu cewek, (mungkin) masih ada cewek yang mau nerima elu.

Makanya bro, PDKT-an itu jangan cuma sama satu cewek doang. PDKT itu diibaratin elu lagi mancing, jangan mancing disatu tempat aja karena belum tentu disana banyak ikannya. Meskipun banyak, siapa tahu ikan-ikan disana lagi pada puasa sunnat. Lah. Sorry, ngelantur. Hehehe…

Mungkin lo harus PDKT-an sama beberapa cewek hingga membuat  lu memiliki peluang yang besar. Kan enak tuh, kalau satu orang nolak lu tapi masih ada gebetan cadangan. Kalau mereka semua nolak elu, maka saran gue sih mending lo ngejomblo aja sampai kulit manggis udah engga ada ekstraknya.

Seperti gue, lagi, yang selalu ditolak tapi engga pernah menyerah buat jatuh cinta. Tekad gue emang bulat, semangat gue dalam hal percintaan emang terlalu membara. Meskipun sering mendapatkan berbagai macam penolakan, gue masih tetap berusaha buat engga ngejomblo lagi.

Gue akui, pada dasarnya gue engga memiliki modal apa-apa. Wajah engga ganteng, dompet cuma berisi dengan harapan dan doa-doa, ditambah lagi gue lebih banyak kenalan dengan sesama jenis ketimbang lawan jenis. Ini syedih, karena resiko memiliki banyak teman sesama jenis (mungkin) mengakibatkan seorang cowok mengalami penyakit maho.

Semoga engga. Gue paling takut sama cowok yang doyan grepe-grepe fantat sesamanya, hih, mau gue bunuh aja kalau ada cowok yang bertingkah kurang ajar kayak gini sama gue.

Kadang gue merasa iri dengan adegan-adegan di film ftv. Disana, hanya dengan modal ‘ketidak sengajaan’ bisa mendapatkan pacar. Engga perduli cowoknya cuma tukang becak, supir angkot, penjual sate, gembel jarang sikat gigi, hanya dengan modal sifat polos dan lugu doang bisa dapet pacar seorang cewek yang cantik. Coba aja semua kejadian di ftv itu terjadi didunia nyata, gue pasti bersyukur banget karena telah diciptakan sebagai seorang cowok.

Dengan tampang gue yang dari sononya emang udah kayak gembel, yang kalau senyum bisa bikin wanita hamil langsung keguguran, namun karena gue lugu dan polos, ada seorang cewek cantik jatuh cinta sama gue yang bermula ketika gue engga sengaja nabrak dia pake becak. Ya meskipun harus menghadapi segala kejadian yang udah mainstream terlebih dahulu, tapi engga masa karena tetep aja endingnya bakalan jadian juga.

Tapi semua itu hanyalah sebatas harapan dan angan-angan semata, apalah daya karena nyatanya dunia ini terlalu keras. Bahkan kerasnya dunia ini pun mengalahkan kerasnya anu yang bangkit dipagi hari. Plis, engga usah dipikirin paragraf ini. Meskipun begitu, gue engga akan menyerah untuk mengejar jodoh gue yang masih ada digenggaman tangan Tuhan. Atau bisa juga jodoh gue lagi didalam pelukan orang lain.

Selama gue masih mampu, selama kosa-kosa kata gombal masih terpatri didalam otak gue, selama nafsu gue sama cewek masih terus membuncah, selama tekad gue masih kuat untuk melepas status jomblo yang setia melekat didiri gue, selama muka gue masih jelek aja meskipun udah dipermak beberapa kali, selama dijah yellow engga berubah jadi pink, gue masih akan terus berusaha. Gue akan selalu menebarkan modus dimana-mana. Inilah kisah gue, seorang jomblo yang gencar mengejar jodohnya yang sedang entah lagi dipakai oleh siapa. Hiks.

Btw, nih gue kasih foto-foto cewek seksi biar catatan ini engga galau-galau amat. Selamat menikmati! Tolong jauhkan sabun dan dekatkan ember dan taruh disamping kalian semua. Karena foto ini….

image

Sekian dan terimakasih. Huek.. 😥

Semua cerita disini murni karya asli milik Muhammad Firdaus. Terimakasih telah berkunjung dan berkenan membaca tulisan-tulisan disini. Official Twitter dan ID Line penulis : Bukandaus

NRP.

image

image

NRP.  Sebuah nama agency  yang terletak di paling sudut jagad twitter, sebuah agency Role Player Anime atau lebih sering disebut RP; adalah; sebuah tempat dimana para jones-jones berbasis yaoi dan yuri berkumpul. Ada juga kok yang mesum, saking mesumnya, doi ngeretweet pict hentai kapanpun dia mau. Engga perduli masih pagi atau siang, kalau ada pict hentai yang nongol di timeline pasti diretweet sama dia. Motivasinya sih cuma satu, ‘Berbagi itu indah. Horny berjama’ah biar varokah.’

Dari yang umurnya udah memasuki masa tenggang sampai yang bulu kemaluannya masih belum tumbuh pun ada di NRP. Yang bertitle om-om, dedeq, cabe-cabean, sampai terong-terongan dijamin ada di NRP. Tiap hari kalau para pasien rsj ini nongol di twitter, duh, bakalan rusuh.

Di NRP, yang namanya yaoi dan yuri itu mah udah biasa. Yang engga biasa itu kalau ada orang normal yang bisa tetap normal dalam beberapa jam berada di NRP. Dulu, gue itu cukup normal dan polos. Iya, saking normalnya gue engga tau apa itu yang namanya oppai. Lalu gue dipertemukan dengan sesepuh NRP yang-namanya kalian-sudah-pasti-tahu-siapa, ya benar, dialah Joe. Cowok sok ganteng yang sampai sekarang gue bingung kapan orang itu akan dipanggil sama Yang Maha Kuasa. Masalahnya, keberadaan dia benar-benar bikin dunia sesak. Ngabisin oksigen doang dia mah. Maaf Joe, tolong jangan marah saat lu baca coretan ini. Itu pun kalau lo bisa baca.

Sejak gue ketemu dia, segel iblis mesum didalam diri gue terbuka secara paksa. Hingga membuat gue jadi seorang mesumers yang tiap hari kerjaannya hentaian mulu. Ciusan, gue kangen berat sama diri gue yang masih polos, unyu-unyu kayak penyu, yang masih imut-imut kayak bayi dedemit.

Tapi semua sudah terjadi, penyelesaian memang selalu datang belakangan. Kalau datangnya waktu didepan itu bukan penyesalan, tapi pendaftaran. Udah, iyain aja deh.

Pernah terbesit, caelah bahasa gue, buat tobat dan berhenti dari dunia kemesuman ini. Namun tiap kali gue mau tobat, selalu aja ada hambatan. Entah hambatan yang secara disengaja atau tidak, selalu begitu tiap kali gue mau tobat. Masalahnya, gue udah takut sama dosa. Dosa gue udah terlalu banyak, saking banyaknya, gue bingung mau diapain. Mau gue sumbangin tapi engga ada yang mau. Ya kali gue sedekahin dosa-dosa gue sama anak yatim. Mau gue jual dalam bentuk voucher dan elektrik, tapi engga bakalan ada yang mau beli.

Akhirnya, gue mutusin buat ngehapus dosa-dosa yang ada didalam diri gue.

Tobat. Bukan cuma kalian kok yang kaget kalau gue; senpai mesumers; atau sensei para mesumers para; junior yang ada di NRP; memutuskan untuk meninggalkan dunia laknat yang selalu bikin ‘anu’-nya tegang dan bergetar dengan hebat setiap hari. Bukan cuma kalian kok yang kaget, gue sendiri juga kaget. Hih.

Setiap hari gue selalu berlatih mengendalikan diri, dari baca dzikir sampai nonton bokep udah gue lakukan. Dan hasilnya? Gue tetep aja masih sering horny, karena tiap kali gue ngelakuin hal yang nomor dua. Anjir kan tuh.

Lelah, itu yang gue rasakan. Akhirnya gue memutuskan untuk pasrah aja, biarlah kemesuman ini menguasai diriku.

NRP. Adalah sebuah agency yang memiliki kekuatan mistis dan berbau gaib. Konon katanya, agency ini adalah magnetnya para JOMBLO. Yeah, awalnya gue ragu dengan mitos ini dan memilih untuk tidak memperdulikannya. Tapi setelah sekian lama gue melakukan penelitian yang engga berguna, gue mulai percaya dengan mitos ini.

Pertama, seriusan, member NRP emang rata-rata cuma diisi para JOMBLO. Gue salah satunya, yeah, gue jomblo dan gue bangga. Karena gue jomblo, NRP memanggil jiwa gue buat join dengan mereka. Dan gue ketemu sama spesies-spesies ajaib yang engga pernah gue temuin sebelumnya.

Eve. Dia adalah rp-ers yang memerankan karakter Nico Robin dari anime One Piece. Dulunya dia memerankan Tsunade dari Anime Naruto, tapi katanya dia udah bosen dan mau ganti jadi Nico Robin. Gue heran, anak ini doyan sama karakter yang oppainya gede kayak semangka.

Dia adalah admin yang saat ini sering on di account agency. Eve ini orangnya ramah, baik, dan… sok polos. Kalau dia ngomong polos sama gue, entah kenapa gue merasa aneh gimana-gamana ya. Duilah, susah jelasinnya.

Lagian siapa juga yang percaya dia polos tapi selalu milih karakter cewek yang oppainya gede. Plis, buat kalian yang engga tahu apa itu oppai segera baca buku panduan. Eh emang NRP ada buku panduannya? Sabodo lah, emang gue pikirin.

Ebe. Admin setengah cewek yang juga udah bikin NRP sesukses sekarang. Kalau Eve dipanggil miss oppai, nah si Ebe ini dipanggil imposible oppai, mystique oppai, misterius oppai, apa lagi yak? Lagi pula, Ebe punya OPPAI? HAHAHAHAHA, MUSTAHIL NJIR.

Sorry, gue rada engga nyante. Ebe ini adalah cewek ke cowok-cowokan. Dia beneran kebalikannya sama Eve. Kalau Eve suka karakter anime cewek yang oppainya gede, kalau Ebe suka karakter anime cewek yang oppainya pettan. Dari Ayame from anime Naruto sampai Kaoru from anime Samurai X engga ada satu pun dari mereka yang memiliki oppai, lekukannya aja engga ada.

Ngomongin soal Ayame, Ebe paling anti kalau ada orang yang nyebutin nama Killer B. Soalnya itu kan nama mantan dia. Ebe udah mup un kok, cuma ya namanya juga masih cinta. Eh engga deng, canda. Gue yakin Ebe udah benar-benar mup un, semoga.

Joe. Hah, sampai juga ke satu nama yang paling keramat di NRP. Dia seorang cowok, mesum, pura-pura engga maho tapi sebenarnya maho akut. Dia ini om-om yang berbahaya, yang bisa bikin seorang anak yang polos jadi engga polos lagi. Dan gue adalah salah satu dari korbannya.

Kebiasannya adalah selalu ngupil pakai jari sendiri, karena Joe anti ngupil pakai jari orang lain. Yaiyalah njir.

Makhluk bernama Joe ini kalau nongol di temlen, atmosfer di temlen bakalan langsung berubah. Dari yang awalnya temlen adem anyem mendadak nyeremin pas dia nongol. Udah macem setan aja ya. Dan awas aja buat kalian para followers si ular kadut ini, kalau otak dia lagi eror, pict-pict hentai akan berlalu lalang layaknya tweet mantan yang diretweet oleh orang lain. Hah, tobatlah Joe. Ingat umur, perbanyak ibadah. Duh, kapan-kapan gue kasih usul deh sama para admin buat ngadain pengajian khusus buat anak NRP biar pada jadi anak sholeh dan sholehah.

Bokir. Dia admin yang paling cakep, ganteng, dan unyu. Udah gitu aja. Mau marah? Serah eyke dong, yang nulis gue ngapain lo sewot nyet!

Dengan empat admin yang sengklek dan abnormal, NRP semakin gesrek dengan member-member yang… Seriusan, gue takut ngomonginnya.

Yurian, udah biasa. Yaoian, ah itu mah bukan rahasia umum lagi. Hentaian, duh rasanya itu udah mendarah daging pada semua anak asuh NRP.

Kalau lo mau tanya siapa yang paling yuri dari yang ter-yuri sama gue, gue rasa kalian pasti sudah tahu siapa. Ya benar, dia disebut Iin oleh kita. Cewek sangar yang mesti disuntik vaksin supaya engga nularin rabiesnya keorang-orang. Maafkan daku In, bukan maksudku menulis ini. Tapi apalah daya, jari gue bergerak sendiri. Ciusan deh beb. *Emot Cium*

Kalau tentang siapa yang paling maho dari yang termaho di NRP, menurut gue sih rata-rata cowok di NRP memiliki level ke MAHOAN yang seimbang.

So, inilah Agency NRP. Agency Role Player anime yang cuma dijadiin sebagai kedok. Ada yang bilang kalau NRP itu adalah panti jomblo, tempat rehabilitasi orang-orang yang gangguan jiwa, kumpulan otak mesum, macam-macam deh. Terserah lo mau ngomong dan nyebut NRP ini kayak gimana, yang pasti intinya di NRP itu SERU-SERUAN AJA.

Agency ini selalu menerima siapapun, JOMBLO, JONES, YURI, MAHO, LEKONG, ALAY, CABE-CABEAN, TERONG-TERONGAN, SAYUR-SAYURAN, OM-OM PEDOFIL, SEMUANYA DITERIMA DI NRP TANPA TERKECUALI.

Jadi, yang tertarik buat join langsung aja lo siapin kuota internet dan mention ke @NRPEvolution buat booking. Sekian ceramah dari saya, terimakasih, wacalam… *EMOT SENYUM ALAY*

Semua cerita disini murni karya asli milik Muhammad Firdaus. Terimakasih telah berkunjung dan berkenan membaca tulisan-tulisan disini. Official Twitter dan ID Line penulis : Bukandaus

My Sweetheart.

image

GENRE : ROMANCE. (OOT)

PEMAIN :
Roronoa Zoro.
-Nico Robin.
-Nami.
-Sanji.        

Note Author :Seluruh pict yang ada di FF ini diambil dari embah google. Saya lupa link nya, tapi bisa ditulis dimbah google kalau mau nyari pict setiap karakter dengan embel-embel ‘Fan Art’. Saya juga nyarinya di mbak devian art.

Roronoa Zoro, nama pria berambut hijau itu. Tatapannya yang tajam mengarah pada sosok wanita yang memakai dress ungu gelap tanpa lengan, memperlihatkan lengan dan punggungnya yang begitu putih dan mulus karena rambut wanita itu sengaja disanggul. Beberapa pria sulit mengalihkan perhatiannya dari wanita itu, ia terlihat seperti seorang bidadari yang salah tempat. Bersinar, dan memukau. Sayangnya wanita itu tidak perduli dengan sekitarnya.

“Apa dia tidak risih menjadi pusat perhatian seperti itu?” Zoro bergumam dengan satu alis terangkat. Buru-buru ia menghendikan bahu, “Kenapa juga aku harus perduli?” Katanya lagi. Ada rasa geli yang tiba-tiba menyergap Zoro karena memperdulikan wanita yang tidak dikenalnya.

Dari sudut mata Zoro, seorang pria berambut kuning mencolok dengan setelan kemeja coklat berjalan sembari membawa nampan berisikan makanan. Pria berambut kuning itu terlihat menari-nari yang beruntungnya nampan yang berada ditangannya tidak terlempar kemana-mana. Ia berhenti sejenak begitu sudah berdiri dihadapan wanita itu, tersenyum simpul dengan mata yang tak lepas memperhatikan wanita dihadapannya.

“Nah Nona Robin! Ini ku buatkan khusus untukmu, hari ini kau akan mendapatkan pelayanan khusus dari pemilik cafe ini!” Kata pria itu membuat wanita bernama Nico Robin tersenyum. Selalu saja seperti ini setiap kali ia berkunjung kesini.

“Wah. Terimakasih, Sanji.” Nico memperhatikan beberapa makanan yang tersaji dimejanya.

Padahal niatnya kesini hanya untuk sekedar bersantai sambil membaca buku dan menikmati segelas kopi terenak dikota ini yang hanya tersedia dicafe Baratie. Tapi selalu begini, setiap kali ia datang berkunjung maka Sanji akan memberikan pelayanan khusus untuknya. Bahkan kalau saja Robin tidak mencegah pria berwajah maskulin dihadapannya, mungkin meja Robin akan dipenuhi oleh makanan yang wanita itu yakin tidak akan bisa menghabiskan semuanya. Yeah, andai saja Robin bisa mencari ketenangan dibutiknya. Hal yang pasti mustahil akan terjadi.

“Kau benar-benar tidak berubah, dasar mesum.” Sindir Zoro ketika Sanji melewati mejanya.

“Heh kepala lumut! Diam kau!” Sanji mendengus, “Makan saja makananmu dan segera enyah dari sini sebelum aku menendang pantatmu!”

“Kalau kau ingin Julliet tersiksa didoujo ku sih silahkan saja, Tuan Alis Keriting.” Ada penekanan pada setiap ucapannya.

Kalau saja sepupunya, Julliet, tidak belajar di Doujo milik Zoro, Sanji pasti akan segera menendang bokong pria berambut hijau itu. Entah mengapa setiap kali bertemu dengan pria dihadapannya ini, mod Sanji langsung down seketika. Tapi hal itu tidak akan berlangsung lama begitu ia melihat wanita cantik. Sebenarnya sih bukan rahasia umum lagi kalau pemilik cafe mewah ini -yang tidak lain adalah Sanji- seorang pria mata keranjang.

“Awas saja kalau Julliet sampai kenapa-napa! Aku bersumpah akan memecahkan bola milikmu!” Ancam Sanji dengan tatapan murka.

Bukannya takut, Zoro malah menyeringai. Jenis seringaian yang meremehkan, “Terserah aku kan? Lagi pula itu doujo milikku.”

Enggan melanjutkan perdebatan, Sanji memilih pergi kembali kedapur setelah menghela nafas dengan kasar. Beradu argumen dengan Zoro hanya akan membuang tenaga dan waktu.

*****

Selesai menghabiskan makanannya, Zoro memutuskan untuk segera pergi. Hari ini jadwalnya hanya pergi ke Doujo miliknya untuk mengawasi murid-murid disana. Ya, Zoro adalah pemilik Doujou aliran Santouryuu yang memiliki cabang Doujo diseluruh dunia namun berpusat di Jepang. Bisa dibilang Zoro adalah seorang ahli pedang yang terkenal didunia, selain itu dia juga seorang pengusaha dalam bidang persenjataan. Beberapa negara memakai jasanya untuk membantu dalam hal kemiliteran, dan semua itu murni dari hasil jerih payahnya sendiri selama bertahun-tahun.

Baru saja Zoro akan menyalakan mobil sport hijau miliknya, seseorang mengetuk kaca mobilnya. Membuat gerakan Zoro terhenti, kepalanya menengok kesamping.

Robin tersenyum, memberi isyarat agar pria didalam sana menurunkan kaca mobilnya.

“Apa?” Satu alis Zoro terangkat.

“Maaf Tuan, bisakah anda membantu saya untuk memeriksa mobil saya?”

Zoro terkekeh pelan yang membuat Robin menghernyitkan dahi penuh kebingungan.

“Tak perlu formal begitu.” Kata Zoro setelah meredamkan tawanya, pria itu kembali turun dari mobilnya. “Sebenarnya aku tidak mengerti apa-apa tentang mesin mobil.”

Mendengarnya, Robin mendesah kecewa. “Aku bahkan tidak membawa ponsel.”

“Apa itu sebuah isyarat agar aku meminjamkan ponselku?” Kali ini gantian Zoro yang menghernyit bingung.

“Aku tidak keberatan jika kau berpikir seperti itu.” Kali ini Robin tersenyum, iris biru tua dengan warna hijau tosca disisinya terlihat berkilauan. “Kalau kau tidak keberatan sih. Aku hanya ingin menghubungi pelayan pribadiku agar dia mengantarkan sebuah mobil.”

Zoro terlihat berpikir, karena terlalu lama hingga akhirnya – membuat Robin secara diam-diam mengamati pria dihadapannya. Menurutnya, Zoro sangat tampan dengan rambut hijau dan tiga anting berbentuk pedang menghiasi telinga kanannya. Matanya sifit tapi begitu tajam saat menatap apapun, ada satu goresan luka dimata kirinya. Belum lagi tubuhnya cukup tinggi dan terlihat sangat terbentuk dengan sempurna meskipun ditutupi kemeja putih terang yang mencolok, tipe-tipe pria maskulin idaman setiap wanita seperti dirinya. Ditambah lagi Zoro memiliki kulit kecoklatan dan semakin membuat pria ini terlihat begitu seksi.

“Ku rasa meminjamkan ponselku bukanlah ide yang bagus.” Gumam Zoro seraya mengetuk-ngetuk dagunya.

“Kau tidak mempercayaiku?” Dengan satu alis terangkat Robin bertanya.

Zoro mengangguk, “Kita bahkan tidak saling mengenal. Jadi tidak ada alasan untukku percaya padamu begitu saja kan?”

“Kau terlalu bersikap defensif Tuan Roronoa Zoro.” Memang, suara Robin terdengar tenang. Tapi Zoro tahu kalau wanita dihadapannya ini tersinggung atas ucapannya barusan. Memang beginilah Zoro, selalu mengutarakan apapun tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. Tidak heran kalau pria ini cukup disegani oleh kalangan bourjouis lainnya.

Sadar akan sesuatu, Zoro segera menyela Robin yang akan segera melanjutkan ucapannya. “Kau tahu namaku?”

“Beberapa bulan ini nama perusahaan mu selalu muncul disetiap majalah bisnis, pria terkaya dalam daftar nomor sembilan belas yang mendonorkan jasanya saat Palestina diserang Israel. Dan ku dengar lagi, kau juga menjadi kontributor dalam semua yang berbau kemiliteran dibeberapa negara kecil disetiap belahan dunia.” Robin tersenyum, “Kalau kau tidak tahu aku, artinya kau tipe orang yang tidak memperdulikan apapun disekitarmu. Padahal aku berada diperingkat nomor tujuh belas, diatasmu, dan mereka hanya terlalu melebihkan.”

Well, mau pamer huh?” Zoro tersenyum geli.

“Hanya berusaha membuatmu percaya padaku.”

“Kalau begitu lebih baik aku mengantarmu.” Ucap Zoro seraya menghendikan bahu, “Tidak akan merepotkan kok.” Tambahnya lagi sebelum Robin hendak menolak tawarannya.

Cukup lama Robin berpikir, akhirnya ia menyetujui ide dari pria dihadapannya. Sebenarnya ia masih merutuki dirinya sendiri kenapa sampai lupa membawa ponsel saat meninggalkan butik miliknya. Robin menghembuskan nafasnya sebelum masuk kedalam mobil sport hijau milik Zoro.

*****

Untuk yang ketiga kalinya Nami mendengus sambil menatap sebal kearah layar ponselnya karena tak ada satu pun dari panggilannya dijawab oleh Robin, sahabat karibnya semasa ia kuliah di Jerman. Wanita dengan rambut panjang berwarna oranye itu tidak memperdulikan semua mata di pusat perbelanjaan tertuju padanya. Bisa-bisanya sahabat karibnya itu melupakan kalau hari ini mereka sudah mengadakan janji untuk bertemu dan berbelanja bersama.

Dering ponsel milik Nami melantunkan lagu Monster yang dibawakan oleh Paramore. Buru-buru ia mengeluarkan ponsel dari tas miliknya; berharap Robin yang menghubunginya; namun; Nami pun mendesah kecewa ketika mengecek caller id. Bukan Nico Robin yang menelpon.

To the point. Mod ku sedang buruk jika harus berdebat denganmu.” Titah Nami pada orang diseberang sana, Manager-nya –Magenta.

“Kemana kau?! Bukankah sore ini kau ada jadwal pemotretan?!” Bahkan suaranya saat ditelpon pun masih melengking seperti biasa.

Nami mendengus, “Sudah ku bilang kan kalau kau harus membatalkan semua jadwalku dari hari ini sampai tiga hari kedepan?” Tanya Nami penuh penekanan hingga membuat Magenta diseberang sana balas mendengus.

“Kau ini!” Membayangkan wajah Magenta yang begitu frustasi menghadapi sikap keras kepala Nami, membuat Nami tersenyum geli sendiri.

“Dengar, aku tidak perduli kau mau memarahi atau apapun itu. Yang jelas, selama tiga hari ini aku akan berlibur bersama temanku. Jadi jangan mengangguku.”

Klik. Nami memutuskan sambungannya sebelum Magenta sempat berteriak-teriak seperti orang yang kesetanan. Masa bodo dengan karirnya, yang ia inginkan hanyalah bertemu dengan Robin. Semenjak mereka sama-sama lulus kuliah, Nami dan Robin berpisah karena Nami harus kembali ke New York sedangkan Robin kembali ke Paris. Mereka memang sempat saling video call selama beberapa bulan, tapi mulai jarang ketika Robin sudah mulai sibuk merintis perbutikannya. Belum lagi ia juga harus mengurus perusahaan orang tuanya yang bergerak dalam bidang bisnis batu permata. Membuat Robin tidak memiliki waktu luang untuk sekedar video call bersama Nami.

Begitu pula dengan Nami, semenjak dirinya mulai eksis dalam dunia intertainment, wanita yang memiliki tubuh sempurna itu pun tidak memiliki waktu luang lagi. Well, apa lagi saat ini karir Nami saat ini sedang melejit. Begitu banyak film-film yang dibintanginya, iklan-iklan yang ditawarkan padanya, ada juga yang menawarkan ia sebagai model video klip penyanyi dan band-band terkenal, belum lagi Nami juga merangkap sebagai model papan atas. Hah, semuanya terlalu melelahkan. Tapi Nami begitu puas dengan buah yang dihasilkan oleh kerja kerasnya.

Nami melengos pergi setelah memasukkan kembali ponsel didalam tasnya, beruntung ia hari ini hanya memakai hotpants dan kaus kuning berlengan pendek serta sepatu konverse berwarna putih, setidaknya ia tidak kesulitan jika harus naik-turun tangga. Nami memutuskan untuk langsung pergi kerumah Robin saja, karena ia yakin sahabatnya itu tidak akan datang kesini.

Banyak pria yang memperhatikan paha mulus milik Nami, dan banyak juga pria yang menelan air liur melihat lekuk tubuh Nami yang sangat indah. Bagi Nami, sebuah kehormatan bagi seorang wanita mampu membuat mereka – para kaum lelaki tersiksa dengan fantasi liar mereka sendiri. Karena menurut Nami semua pria sama saja, brengsek dan hanya menginginkan kenikmatan semata dari wanita. Tipe-tipe pria yang paling Nami benci didalam hidupnya.

Baru saja Nami sampai dibasement parkir ketika sebuah mobil sport hijau berhenti tepat dihadapannya, membuat wanita itu berjengit kaget. Sebelum Nami sempat menendang pintu mobil itu, kaca mobil turun dan memunculkan wajah seorang Nico Robin yang sedang menahan tawanya melihat ekpresi kesal diwajah Nami.

“Bagus, kau membatalkan janji hanya untuk berkencan dengan seorang pria? Huh?” Nami mencibir.

“Jangan asal!” Robin menggeleng-gelengkan kepalanya, “Mobilku mogok. Jadi aku terpaksa menumpang.”

“Menumpang?” Tanya Nami dengan satu alis yang terangkat.

Robin mengangguk, “Kalau saja aku tidak lupa membawa ponselku, aku pasti tidak akan terlambat. Atau jika ada yang mau meminjamkan aku ponsel, mungkin aku tidak akan menumpang dengannya.”

Jelas, sindiran itu benar-benar mengenai pria disampingnya, Zoro. Membuat Zoro mendengus hendak membalas kalimat sarkasme milik Robin.

Mengabaikan gerutuan panjang lebar Zoro, Robin kembali mengalihkan perhatiannya pada Nami yang masih tak mengerti maksud dari ucapan sahabatnya.

“Masuklah, ku rasa lebih baik kita kerumah ku dulu.”

“Errr… Aku membawa mobil sendiri.” Jawab Nami sembari menunjuk mobil ferrari merah menyala yang terparkir diseberang, “Kakakku pasti mengamuk kalau sampai aku meninggalkannya disini.”

“Kakakmu?” Robin baru tahu kalau kakak Nami tinggal di Paris.

Anggukan Nami membenarkan, “Dia baru saja sebulan yang lalu pindah kesini, kau tahu bagaimana sifat dia kan.”

Walhasil, Nami menyetir sendiri saat menuju rumah Robin. Padahal tadi Robin hendak ikut dengannya, tapi pria tampan berambut hijau itu mencegah Robin dengan alasan ia punya tanggung jawab untuk mengantar sahabatnya itu sampai kerumah. Alasan yang konyol, batin Nami. Jelas sekali kalau pria itu sedang mencari perhatian Robin, dan seperti biasa, Robin tidak peka sama sekali. Bukan rahasia umum lagi sih.

Nami memberhentikan mobilnya tepat didepan gerbang rumah Robin, seorang penjaga sigap menghampiri Nami. Setelah menyerahkan kunci, Nami melengang pergi memasuki halaman rumah Robin yang dipenuhi tanaman-tanaman berbagai bunga. Bau-bau harum segera menyergap indra penciumannya, sudut matanya melirik kearah Zoro dan Robin yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu.

“Maaf aku telah mencurigaimu.” Meskipun suara Zoro terdengar datar-datar saja, Robin yakin kalau pria dihadapannya ini bersungguh-sungguh dalam meminta maaf.

Robin tersenyum, lagi, “Tidak perlu dipikirkan, wajar sih kalau kau tidak mudah percaya dengan orang lain.”

“Yeah, menjadi pembisnis persenjataan dan seorang kontributor militer membuatku harus selalu bersikap defensif pada siapapun.” Jawab Zoro membenarkan.

“Termasuk dengan kekasihmu sendiri?” Satu alis Robin terangkat.

“Jika aku punya.” Jawab Zoro lagi dengan menghendikan bahu, “Ku rasa temanmu sudah sampai.” Zoro mengalihkan pandangannya pada Nami yang berjalan menghampiri mereka.

Robin mengikuti arah pandangan Zoro, Nami kini sudah berada dihadapan mereka dengan raut wajah kusut entah karena apa. Robin mengenal betul wanita dihadapannya ini, mod nya memang mudah naik turun ditambah lagi dia tipe-tipe wanita yang memiliki temperamen tinggi.

“Apa?” Akhirnya Zoro membuka suara kembali setelah jengah dengan tatapan sengit dari Nami.

“Apa urusan kalian sudah selesai? Tidak baik berada dirumah wanita saat hanya ada dua orang wanita disini.” Ketus Nami. Jelas sekali ada nada tidak suka dari suaranya.

“Kau melupakan para pelayan dirumah ini.” Gumam Zoro terlihat tak perduli dengan sikap ketus Nami, wanita yang bahkan namanya saja Zoro tidak tahu. “Dan sepertinya kita tidak sedang berada didalam rumah.” Tambahnya.

Zoro kembali memperhatikan Robin, senyum tipis tersungging dibibirnya, hal yang jarang terjadi. “Aku pergi, well, semoga kita bisa bertemu lagi Nico Robin.”

“Dalam mimpimu.” Kata Nami menyela dengan nada dingin, berharap agar pria itu segera pergi.

Dengan dahi mengkerut, Zoro memutuskan segera masuk kedalam mobilnya karena enggan menanggapi wanita menyebalkan itu. Menurutnya hanya akan membuang waktu dan menguras emosi belaka, lagi pula dia tetap seorang wanita. Makhluk yang rapuh yang selalu berlindung dibelakang punggung pria.

“Kau kenapa sih? Apa kau mengenal Zoro?” Tanya Robin begitu mereka sudah didalam rumah. Nami mengambil bantal disofa dan segera menyalakan televisi.

Oh jadi namanya Zoro? Nama yang aneh untuk orang Asia, batin Nami. Wanita itu mendengus, “Aku tidak suka melihat wajahnya.” Katanya setelah menelan biskuit yang tersedia diatas meja.

“Memangnya ada apa dengan wajahnya?” Robin benar-benar penasaran.

Kedua kalinya Nami mendengus, “Dia terlihat seperti pria yang arogan. Tipe pria yang terlalu percaya diri dan merasa dirinya paling sempurna, dan aku benci dengan pria seperti itu.”

Terkekeh pelan, Robin mendaratkan tubuh indahnya disamping Nami. Matanya menatap dalam-dalam wajah Nami yang tidak mengalihkan perhatiannya dari televisi.

“Tidak baik menilai orang yang bahkan kau tidak mengenalnya. Asumsi mu tidak memiliki bukti sama sekali.”

“Hah! Apa kau sudah mulai tertarik dengan pria?!” Kali ini Nami menudingkan telunjuknya didepan wajah Robin.

“Aku hanya merasa kalau Zoro adalah pria yang baik.” Jawab Robin dengan nada tenang dan tak terpengaruh dengan tudingan Nami.

Nami memutar bola mata, ia memperbaiki posisi duduknya. Kedua tangannya terlipat didepan dada, “Terserah, niatku kesini hanya ingin bersenang-senang denganmu.” Jeda sejenak saat Nami menghela nafas, “Jadi malam ini kita bakalan kemana?”

Untung saja Nami bertanya, jadi Robin teringat kalau malam ini  akan menghadiri sebuah pesta rekan bisnisnya.

“Oh sial, malam ini aku harus pergi kepesta rekan bisnisku.”

Ada kerutan samar dikening Nami, “Haa? Sudah ku bilang kan kalau hari selasa sampai jum’at kau harus mengosongkan jadwalmu!”

“Sudah ku lakukan.” Jawab Robin, menghela nafas, lagi, “Tapi pesta ini penting, karena aku harus menggantikan ibuku.”

“Tante Olivia kemana?” Jujur saja, Nami baru sadar kalau Olivia -ibunda Robin- tidak keluar dari tadi. Padahal biasanya kalau Nami datang kesini, Olivia bakalan menjadi orang yang paling heboh.

“Dia sedang ke Dubai, berlibur.”

“Oh God! Jadi aku bakalan sendirian malam ini sedangkan kau bakalan pergi kepesta?” Ia menatap Robin tidak percaya, “Kalau tahu begini aku akan berangkat besok saja.”

Ada senyum misterius menghiasi wajah cantik Robin, “Kenapa kau harus sendirian disini? Aku punya ide yang bagus.”

– Bersambung…

Semua cerita disini murni karya asli milik Muhammad Firdaus. Terimakasih telah berkunjung dan berkenan membaca tulisan-tulisan disini. Official Twitter dan ID Line penulis : Bukandaus